Total Tayangan Laman

Rabu, 05 Maret 2014

Rektor Lantik Dekan Baru Fakultas Ekonomi dan Bisnis




 
Walisongo,  Rektor IAIN Walisongo Prof Dr Muhibbin MAg melantik Dr H Imam Yahya MAg, sebagai Dekan baru Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) IAIN Walisongo Semarang, pada Jum’at, (17/1) di aula kampus IAIN. Jabatan Wakil Dekan FEBI masih dalam proses penggodokan, dalam waktu dekat juga akan dilantik.
Pelantikan dilakukan juga kepada H Abdul Ghofur (Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Syariah), H Muhamad Syaifullah MAg (Wakil Dekan Bidang Administrasi Umum Fak. Syariah), Achmad Arif Budiman MAg (Wakil Dekan BIdang Kemahasiswaan dan Kerjasama Fak. Syariah) dan 14 orang sebagai Kajur dan Sekjur di IAIN Walisongo.
“Pelantikan ini dilakukan karena bertambahnya Fakultas baru di IAIN Walisongo yaitu Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI). FEBI IAIN sudah dilaunching Menteri Agama pada Desember 2013 di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Ujung Pandang. Jabatan Dekan yang baru bisa dibentuk setelah diadakan rapat senat kemarin,” tegas Prof Dr Muhibbin MAg dalam sambutannya.
Menurutnya, FEBI lahir bukan karena tanpa alasan. FEBI diperlukan karena besarnya minat calon mahasiswa prodi ekonomi Islam dan prodi perbankan syariah yang semakin hari semakin meningkat dan karena perkembangan ekonomi Islam sudah menjadi sebuah keniscayaan. Berbagai lembaga keuangan Islam, baik berupa industry keuangan bank maupun industry keuangan non-bank harus diimbangi dengan pendidikan SDM yang handal dan mumpuni.
Dr. Imam Yahya, M.Ag. menyatakan FEBI sudah banyak diminati masyarakat. Di enam PTAIN (IAIN-UIN) peminat ekonomi Islam sangat banyak, bahkan dua tahun belakangan melebihi peminat calon mahasiswa ke Fakultas Syariah.  Tidak sedikit masyarakat kita yang belum familier dengan nama IAIN, sehingga banyak pertanyaan tentang IAIN.
Di IAIN Walisongo sendiri, FEBI terdiri dari dua prodi yakni prodi ekonomi Islam dan prodi perbankan syariah. Bahkan tahun depan FEBI menambah program studi baru yakni Akuntansi Syariah dan Manajemen Syariah, serta S.2 Ekonomi Islam. (www:walisongo.ac.id)

Pembukaan Kuliah Umum (Studium General)



Semarang, (3/3) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) IAIN Walisongo menyelenggarakan Studium General tahun akademik 2013/2014 di Aula Kampus I IAIN Walisongo. Dalam acara tersebut , FEBI menggandeng Sudarmaji selaku Direktur Pengawas Bank Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional IV wilayah Jateng dan DIY untuk menjadi narasumber. Hadir dalam acara tersebut Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga, Dr. H. Musahadi, M.Ag., Para dosen FEBI dan mahasiswa FEBI.
Acara yang mengusung tema “Peran OJK dalam Pengembangan Industri Keuangan yang sehat” ini dibuka oleh Dekan FEBI, Dr. H. Imam Yahya, M.Ag. Dalam sambutannya, beliau berharap dengan adanya Studium General ini bisa menjadikan mahasiswa lebih aktif dan menjadikan awal perkuliahan yang lebih mudah serta dapat menambah wawasan mahasiswa mengenai OJK.


Semangat dan antusias peserta terlihat jelas dengan banyaknya mahasiswa yang datang sampai ada yang harus berdiri karena kehabisan tempat duduk. Berbagai pertanyaan dilontarkan oleh para peserta salah satunya Evan mahasiswa Prodi Ekonomi Islam “Apa yang membuat Indonesia yakin untuk mendirikan OJK? Padahal seperti yang kita ketahui, Bahwa di Amerika Serikat (AS) ‘OJK’ gagal diterapkan”.  “OJK tidak hanya ada di AS, namun banyak negara yang sukses menerapkan ‘OJK’ untuk menjadikan industri keuangan yang sehat. Contohnya, Korea Selatan. Salah satu motivasi yang membuat OJK yakin untuk didirikan salah satunya, Penanganan oleh OJK lebih Cepat dan Optimal’ Papar Sudarmaji. Materi Studium General dapat diunduh disini. Acara ditutup dengan do’a oleh Drs. H. Hasyim Syarbani, M.M.

Kamis, 23 Januari 2014



Innalillahi wainna Illahi rajiun, semoga mbah Sahal khusyuk khatimah. Lahir 17 Desember 1937' wafat 24 Januari 2014

Selasa, 24 Desember 2013

IAIN Walisongo Membuka FEBI

         Perkembangan Ekonomi Islam yang semakin pesat di Indonesia ini merupakan salah satu indikator berkembangnya Islam yang rahmatan lil alamin, sehingga Islam tidak saja difahami sebagai agama yang mengembangkan ibadah ritual semata, tetapi Islam juga difahami sebagai agama yang mengatur etika pergaulan dan perikehidupan keseharian masyarakat termasuk bidang social, politik dan ekonomi. Demikian inti sambutan Menteri Agama RI Dr. H. Suryadarma Ali, MA., di hadapan civitas akademika UIN Alauddin Ujung Pandang, pada acara Launching enam FEBI di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, UIN Alauddin Makassar,  IAIN Walisngo Semarang, IAIN Surakarta, IAIN Medan, IAIN Palembang, yang dipusatkan di Auditorium Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Ujung Pandang, Sabtu (14/12).
Dalam acara launching FEBI yang dihadliri oleh Dirjen Pendidikan Islam Kemenag dan Dirjen Bimas Islam, para Rektor, dan enam perwakilan Dekan FEBI Menteri Agama RI juga memberikan pengarahan tentang eksistensi dan prospek FEBI di masa mendatang.  Dia meminta kepada seluruh Rektor untuk bisa mengemban amanah ini dalam mengembangkan nilai-nilai akademik dan ke-Islaman  dalam kehidupan di masyarakat.
Sementara Rektor IAIN Walisongo, Prof Dr. Muhibbin, MA, yang didampingi Wakil Rektor I, Dr. H. Musahadi, MA., serta Dekan Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam, Dr. Imam Yahya, MA dan Dr. Arif Junedy, salah seorang dosen FSEI, menyatakan bahwa IAIN Walisongo Semarang akan memulai penerimaan mahasiswa baru FEBI pada tahun akademik 2013/2014.
Menurutnya, FEBI lahir bukan karena tanpa alasan. FEBI diperlukan karena besarnya minat calon mahasiswa prodi ekonomi Islam dan prodi perbankan syariah yang semakin hari semakin meningkat dan karena perkembangan ekonomi Islam sudah menjadi sebuah keniscayaan. Berbagai lembaga keuangan Islam, baik berupa industry keuangan bank maupun industry keuangan non-bank harus diimbangi dengan pendidikan SDM yang handal dan mumpuni.
Sedangkan Dekan FSEI, Dr. Imam Yahya, M.Ag. menyatakan bahwa pemisahan  FSEI menjadi FS dan FEBI merupakan gayung bersambut dari dinamika masyarakat yang ingin menyekolahkan anaknya di lingkungan PTAIN. Di enam PTAIN (IAIN-UIN) peminat ekonomi Islam sangat banyak, bahkan dua tahun belakangan melebihi peminat calon mahasiswa ke Fakultas Syariah.  Tidak sedikit masyarakat kita yang belum familier dengan nama IAIN, sehingga banyak pertanyaan tentang IAIN.
Di IAIN Walisongo sendiri, FEBI terdiri dari dua prodi yakni prodi ekonomi Islam dan prodi perbankan syariah. Bahkan tahun depan FEBI menambah program studi baru yakni Akuntansi Syariah dan Manajemen Syariah, serta S.2 Ekonomi Islam. (IY)

Jumat, 11 Oktober 2013

pertemuan 1

coba
coba
coba
coba
coba
coba
coba
coba
coba
coba
coba
coba
coba
coba
kakkakakak

Jumat, 01 Februari 2013

PENGHULU DI TENGAH PUSARAN KEKUASAAN




Oleh: Imam Yahya

Ketika mendengar kata “penghulu”, spontan bayangan kita tertuju pada sosok laki-laki yang memakai baju sapari, berpeci, dengan langkah mantap dan berwibawa yang akan menuntun mempelai laki-laki mengucapkann ijab qabul pernikahan. Sebuah acara sakral bagi setiap orang yang akan melepaskan masa lajangnya menuju suasana baru dalam mahligai rumah tangga,  dengan iringan doa semoga menjadi keluarga yang sakinah,  mawaddah, dan rahmah.
Gambaran sosok penghulu yang seperti ini, seakan berubah total setelah Irjen Kementerian Agama RI, M Jassin memperkirakan bahwa ada korupsi KUA (penghulu) sebesara 1,2 Trilliyun.  Penghulu tidak lagi sebagai sosok berwibawa tetapi sosok yang suka menerima uang kutipan di tengah kegembiraann calon mempelai laki-laki dan perempuan.
Hitungan 1,2 Trilliyun bukan angka riil yang menjadi bukti korupsi yang telah dilakukan. Angka itu didasarkan pada  jumlah pernikahan di Indonesia selama satu tahun dikalikan dengan lima ratus ribu, distandarkan seperti di berbagai KUA DKI Jakarta.  Meski belum jelas, namun terbangun opini publik bahwa di lembaga  KUA di tiap kecamatan, terjadi korupsi karena adanya  gratifitasi yang dilakukan oleh para penghulu, pasca upacara pernikahan.
Bagi Bimas Islam Kementerian Agama RI, lewat Dirjen Bimas Islam Prof. Abdul Jamil (Suara Merdeka, 29/12/12), opini ini terlalu memojokkan anak buahnya di tingkat paling bawah, yakni para penghulu di KUA. Sosok  penghulu dan perannya di tengah masyarakat jangan hanya dilihat dari aspek ekonomis semata, tetapi di sana ada aspek sosiologis dan kultural. Salah satunya adanya budaya memberi “bisyaroh” kepada penghulu yang dilakukan secara sadar baik oleh penyelenggara negara (penghulu) sebagai penerima maupun masyarakat sebagai pengguna jasa penghulu.

Tugas Penghulu
Secara sosial, penghulu tidak saja diakui sebagai juru nikah tetapi mereka juga dijadikan rujukan dalam berbagai persoalan agama yang berkembang di masyarakat. Dari persoalan pernikahan, perceraian, kewarisan, persoalan ibadah zakat dan puasa, hingga persoalan bagaimana menyelesaikan konflik antar tetangga dan masyarakat. Peran inilah yang menjadikan penghulu tidak hanya sebagai petugas pencatat nikah secara legal formal, tetapi lebih dari itu mereka juga dijadikan rujukan sosial masyarakat.
Dalam PMA No. 30 tahun 2005 dinyatakan bahwa penghulu adalah pegawai negeri sipil sebagai pencatat nikah yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak secara penuh oleh Mentri Agama atau pejabat yang ditunjuk sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku  untu melakukan pengawasan nikah-rujuk menurut Agama Islam dan kegiatan kepenghuluan.
Sementara tugas penghulu sebagaimana disebutkan dalam Peraturan MENPAN Nomor:PER/62/M.PAN/6/2005, adalah melakukan perencanaan kegiatan kepenghuluan, pengawasan pencatatan nikah-rujuk, pelaksanaan pelayanan nikah-rujuk, penasihatan dan konsultasi nikah-rujuk, pemantauan pelanggaran ketentuan nikah-rujuk, pelayanan fatwa hukum munakahat, dan bimbingan muamalah, pembinaan keluarga sakinah, serta pemantauan dan evaluasi kegiatan kepenghuluan dan pengembangan kepenghuluan.
Tugas-tugas formal inilah yang kemudian disinyalir bahwa penghulu melakukan “korupsi” berjamaah hingga 1,2 trilliyun sebagaimana berkembang menjadi polemik di masyarakat. Gaji yang diterimanya sebagai penghulu sudah cukup untuk melakukan perannya sebagai seorang PNS berprofesi penghulu.
Mungkin benar apa yang disampaikan Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama RI, penghulu tidak salah tetapi perlu introspeksi bahwa peran ganda dengan imbalan ganda ini yang sesungguhnya perlu diluruskan. Tanpa pretensi membela atau tidak membela profesi penghulu, posisi penghulu di masyarakat menjadi sangat dominan. Terjadinya transaksi “bisyaroh” yang diperselesihkan sekarang ini, tidak hanya karena kesalahan penghulu tetapi ada budaya saling menghargai di tengah masyarakat muslim, sehingga penghulu yang diundang ke rumah perlu diberikan sekedar “bisyaroh” karena transportasi dan waktu lebih yang harus diberikan seorang penghulu dalam sebuah perhelatan perkawinan.

Di Tengah Pusaran Kekuasaan
Ketika peran ganda penghulu dilihat hanya dengan pendekatan politik semata, maka pendekatan sosial budaya menjadi sirna. Imbalan yang biasa diterima oleh penghulu menjadi sesuatu yang bermakna gratifikasi bagi pejabat negara termasuk penghulu. Tugas pokok penghulu sebagai petugas pencatat nikah merupakan tugas utama yang dilaksanakan seorang penghulu. Sebagai PNS mereka telah mendapatkan gaji dan tunjangan lain yang berkaitan dengan kepenghuluan.
Pemberian imbalan atau gratifikasi inilah yang dalam pembacaan politik menjadi sesuatu yang dilarang demi hukum. Sesuai dengan Pasal 12 Undang-Undang Pemberantasan Korupsi, pemberian hadiah ataupun janji tidak boleh diberikan kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara yang berkaitan dengan tugas dan jabatannya.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 51 tahun 2000 Tentang Biaya Pencatatan Nikah dan Rujuk, dinyatakan bahwa biaya pencatatan nikah sebesar Rp 30.000,-. Sebuah angka yang sangat rasional untuk biaya pernikahan bagi golongan masyarakat manapun, baik masyarakat ekonomi lemah, menengah maupun golongan kaya.
Untuk itulah perlu pembenahan baik menyangkut masalah besarnya biaya pernikahan maupun sikap dan perilaku pejabat negara untuk menolak berbagai hadiah atau “bisyaroh” yang masuk kategorisasi gratifikasi. Biaya pernikahan dengan berbagai medan yang harus dilalui oleh penghulu, pendanaannya harus ditanggung negara. Penghulu di tempat yang terpencil harus mendapatkan tunjangan lebih di bandingkan dengan penghulu yang bertugas di daerah normal. Jangan semua diukur dengan standar normal seperti di Jakarta.
Yah itulah sebuah realita kehidupan di dunia KUA dibawah payung Kementerian Agama yang disalahfahami oleh fihak-fihak tertentu. Para penghulu harus membuka pintu lebar-lebar  penilaian publik, karena sesungguhnya penghulu adalah jabatan pulik yang setiap saat selalu dipantau oleh masyarakat.*) Wallohu a’lamu bis showab.
*) Dr. Imam Yahya, MA. Dekan Fakultas Syariah IAIN Walisongo Semarang.