Total Tayangan Laman

Minggu, 20 Juli 2014


PUASA MENUMBUHKAN TRADISI LITERASI

Oleh: Imam Yahya

Salah satu peristiwa penting dalam mengisi bulan romadlon adalah maraknya kajian dan ceramah di setiap musholla dan masjid di se-antero negeri ini. Sambil menunggu buka puasa, istirahat setelah sholat tarwih maupun setelah sholat subuh, para ustad dan ulama memberikan ceramah agama untuk membekali ummat agar tetap menjadi muslim dan mukmin sejati sesuai tuntunan ilahi.
Begitu juga dengan media massa baik tulis maupun elektronik, berbagai acara ceramah disuguhkan demi memenuhi tuntutan masyarakat. Dari yang berdurasi tujuh menit (kultum), ceramah menjelang buka puasa hingga lomba-lomba dai baik dai cilik maupun dai muda, menghiasi siaran TV sepanjang bulan suci ramadlon. 
Yang tak kalah menariknya adalah munculnya berbagai tulisan keagamaan di setiap media cetak baik lokal maupun nasional. Media media tersebut menyajikan tulisan keagamaan, kisah keagamaan serta perilaku keagamaan tokoh tertentu yang dituliskan menjadi kisah sukses seorang muslim atau muslimah. 
Dari beberapa media tersebut, tulisan ternyata mempunyai nilai manfaat yang lebih dibanding dengan media ceramah. Tulisan yang dimuat di media elektronik dan media tulis lainnya tertu tidak terbatasi oleh tempus dan lokus, artinya media tulisan ini bisa dibaca di mana saja dan kapan saja. Sehingga satu tulisan bisa bermanfaat bagi banyak orang.
Tradisi Literai Islam
Menurut catatan cendikiawan muslim Muhammad Abid al-Jabiri, tradisi Islam adalah tradisi teks. Tidak ada ajaran dalam Islam kecuali ada dalil yang termaktub dalam teks Al-Qur’an, Hadits maupun dalil-dalil yang diintrodusir dari kedua sumber utama Islam tersebut. 
Munculnya berbagai kitab hukum Islam dari para imam madzhab seperti madhab Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafii dan Imam Hambali, memberikan pelajaran bagi kita semua bahwa tradisi literasi di masa Islam awal yakni para sahabat, tabiin dan tabiit tabiin  sangat bermanfaat bagi umat Islam hingga sekarang ini.
Tradisi dari para tabit tabiin dan para pengikutnya hingga sampai di Indonesia bisa kita lihat tulisan para pujangga muslim Indonesia seperti Imam Nawawi al-Bantani yang terkenal dengan kitab tafsir Mirahu Labid (al-Munir fi Maalimi al-Tanzil)-nya, Kyai Bisri Mustofa dengan kitab Tafsirnya, al-Ibriz li Ma’rifah Tafsir al-Qur’an al-Aziz, Kyai Saleh Darat dengan Majmu’at al-Syariat al-Kafiyat lil Awam dan sejumlah mufassir di Indonesia sekarang ini. 
Tak banyak yang tahu siapa sebenarnya Kyai Saleh Darat, Kyai Bisri Mustofa (kakek Gus Mus) dengan berbagai karya monumentalnya, karena tradisi baca tulis masyarakat muslim kita belum maksimal. Kita tidak terlalu Banyak di antara kita yang belum mengapresiasi tulisan-tulisan para pujangga muslim, karena memang tradisi yang banyak berkembangan bukan tradisi baca dan tulis. Akan tetapi yang banyak diminati oleh masyarakat muslim Indonesia adalah tradisi mendengar (mustami). 
Budaya baca dan tulis perlu dikenalkan kepada anak-anak yang sekarang ini masih berpendidikan SD, SMP, SMA bahkan di universitas. Karena dengan membaca maka akan kenal dengan berbagai ilmu pengetahuan baik masa lampau maupun masa sekarang ini. Membaca adalah kunci untuk mengenal dunia dan seisinya bagi setiap insan di dunia.
Menulis Kreatif
Banyaknya pelatihan jurnalistik di kalangan santri Pondok Pesantren atau Gerakan santri menulis yang diselenggarakan oleh pengelola surat kabar mengingatkan akan tradisi literasi yang dilakukan dalam pembelajaran agama di masyarakat kita. 
Bagi para santri, mestinya tradisi literasi di bulan ramadlon bukanlah barang baru karena banyak pesantren yang menyelenggarakan pengajian pasaran selama bulan suci ramadlon. Pengajian pasaran adalah pengajian khusus di bulan ramadlon dengan cara Kyai membacakan sebuah kitab beserta penjelasannya, kemuadian santri membawa kitab masing-masing dan menuliskan beberapa penjelasan yang disampaikan sang Kyai.
Pengajian ini berlaku selama bulan ramadlon sehingga satu kitab, baik kecil maupun besar harus tammat sebelum hari idul fitri. Kitab setebal Ihya Ulumuddin, yang biasanya dibaca selama satu tahun harus diselesaikan dalam waktu kurang satu bulan. Kitab hadist yang sering menjadi andalan pasaran seperti kitab hadits al-Muwattha karangan Imam Malik juga dibaca selama bulan ramadlon.
Meski demikian tidak semua Kyai hanya pandai membaca kitab-kitab salaf, dibeberapa pondok pesantren para kyai memanfaatkan bulan suci ramadlon ini  dengan menulis kitab atau buku berbahasa arab untuk dijadikan pedoman pembelajaran bagi para santrinya. Sebut saja misalnya di pesantren Pethuk Kediri yang terkenal dengan produksi kitab-kitab baru yang ditulis oleh para kyai da alumninya.
Inilah tulisan kreatif para Kyai dan alumni pesantren yang luput dari pemberitaan tetapi banyak menginspirasi sekaligus memicu masyarakat muslim untuk senantiasa mengembangkan ilmu pengetahuan tidak saja dengan cara ceramah atau mendengarkan ceramah, tetapi membaca buku-buku klasik dan modern sekaligus juga menuliskannya secara kreatif dalam buku-buku keagamaan. Wallohu alam bis showab. (Tulisan ini sudah dimuat di Radar Semarang Jawa Pos, Juli 2014)

Rabu, 05 Maret 2014

Rektor Lantik Dekan Baru Fakultas Ekonomi dan Bisnis




 
Walisongo,  Rektor IAIN Walisongo Prof Dr Muhibbin MAg melantik Dr H Imam Yahya MAg, sebagai Dekan baru Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) IAIN Walisongo Semarang, pada Jum’at, (17/1) di aula kampus IAIN. Jabatan Wakil Dekan FEBI masih dalam proses penggodokan, dalam waktu dekat juga akan dilantik.
Pelantikan dilakukan juga kepada H Abdul Ghofur (Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Syariah), H Muhamad Syaifullah MAg (Wakil Dekan Bidang Administrasi Umum Fak. Syariah), Achmad Arif Budiman MAg (Wakil Dekan BIdang Kemahasiswaan dan Kerjasama Fak. Syariah) dan 14 orang sebagai Kajur dan Sekjur di IAIN Walisongo.
“Pelantikan ini dilakukan karena bertambahnya Fakultas baru di IAIN Walisongo yaitu Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI). FEBI IAIN sudah dilaunching Menteri Agama pada Desember 2013 di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Ujung Pandang. Jabatan Dekan yang baru bisa dibentuk setelah diadakan rapat senat kemarin,” tegas Prof Dr Muhibbin MAg dalam sambutannya.
Menurutnya, FEBI lahir bukan karena tanpa alasan. FEBI diperlukan karena besarnya minat calon mahasiswa prodi ekonomi Islam dan prodi perbankan syariah yang semakin hari semakin meningkat dan karena perkembangan ekonomi Islam sudah menjadi sebuah keniscayaan. Berbagai lembaga keuangan Islam, baik berupa industry keuangan bank maupun industry keuangan non-bank harus diimbangi dengan pendidikan SDM yang handal dan mumpuni.
Dr. Imam Yahya, M.Ag. menyatakan FEBI sudah banyak diminati masyarakat. Di enam PTAIN (IAIN-UIN) peminat ekonomi Islam sangat banyak, bahkan dua tahun belakangan melebihi peminat calon mahasiswa ke Fakultas Syariah.  Tidak sedikit masyarakat kita yang belum familier dengan nama IAIN, sehingga banyak pertanyaan tentang IAIN.
Di IAIN Walisongo sendiri, FEBI terdiri dari dua prodi yakni prodi ekonomi Islam dan prodi perbankan syariah. Bahkan tahun depan FEBI menambah program studi baru yakni Akuntansi Syariah dan Manajemen Syariah, serta S.2 Ekonomi Islam. (www:walisongo.ac.id)

Pembukaan Kuliah Umum (Studium General)



Semarang, (3/3) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) IAIN Walisongo menyelenggarakan Studium General tahun akademik 2013/2014 di Aula Kampus I IAIN Walisongo. Dalam acara tersebut , FEBI menggandeng Sudarmaji selaku Direktur Pengawas Bank Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional IV wilayah Jateng dan DIY untuk menjadi narasumber. Hadir dalam acara tersebut Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga, Dr. H. Musahadi, M.Ag., Para dosen FEBI dan mahasiswa FEBI.
Acara yang mengusung tema “Peran OJK dalam Pengembangan Industri Keuangan yang sehat” ini dibuka oleh Dekan FEBI, Dr. H. Imam Yahya, M.Ag. Dalam sambutannya, beliau berharap dengan adanya Studium General ini bisa menjadikan mahasiswa lebih aktif dan menjadikan awal perkuliahan yang lebih mudah serta dapat menambah wawasan mahasiswa mengenai OJK.


Semangat dan antusias peserta terlihat jelas dengan banyaknya mahasiswa yang datang sampai ada yang harus berdiri karena kehabisan tempat duduk. Berbagai pertanyaan dilontarkan oleh para peserta salah satunya Evan mahasiswa Prodi Ekonomi Islam “Apa yang membuat Indonesia yakin untuk mendirikan OJK? Padahal seperti yang kita ketahui, Bahwa di Amerika Serikat (AS) ‘OJK’ gagal diterapkan”.  “OJK tidak hanya ada di AS, namun banyak negara yang sukses menerapkan ‘OJK’ untuk menjadikan industri keuangan yang sehat. Contohnya, Korea Selatan. Salah satu motivasi yang membuat OJK yakin untuk didirikan salah satunya, Penanganan oleh OJK lebih Cepat dan Optimal’ Papar Sudarmaji. Materi Studium General dapat diunduh disini. Acara ditutup dengan do’a oleh Drs. H. Hasyim Syarbani, M.M.

Kamis, 23 Januari 2014



Innalillahi wainna Illahi rajiun, semoga mbah Sahal khusyuk khatimah. Lahir 17 Desember 1937' wafat 24 Januari 2014

Selasa, 24 Desember 2013

IAIN Walisongo Membuka FEBI

         Perkembangan Ekonomi Islam yang semakin pesat di Indonesia ini merupakan salah satu indikator berkembangnya Islam yang rahmatan lil alamin, sehingga Islam tidak saja difahami sebagai agama yang mengembangkan ibadah ritual semata, tetapi Islam juga difahami sebagai agama yang mengatur etika pergaulan dan perikehidupan keseharian masyarakat termasuk bidang social, politik dan ekonomi. Demikian inti sambutan Menteri Agama RI Dr. H. Suryadarma Ali, MA., di hadapan civitas akademika UIN Alauddin Ujung Pandang, pada acara Launching enam FEBI di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, UIN Alauddin Makassar,  IAIN Walisngo Semarang, IAIN Surakarta, IAIN Medan, IAIN Palembang, yang dipusatkan di Auditorium Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Ujung Pandang, Sabtu (14/12).
Dalam acara launching FEBI yang dihadliri oleh Dirjen Pendidikan Islam Kemenag dan Dirjen Bimas Islam, para Rektor, dan enam perwakilan Dekan FEBI Menteri Agama RI juga memberikan pengarahan tentang eksistensi dan prospek FEBI di masa mendatang.  Dia meminta kepada seluruh Rektor untuk bisa mengemban amanah ini dalam mengembangkan nilai-nilai akademik dan ke-Islaman  dalam kehidupan di masyarakat.
Sementara Rektor IAIN Walisongo, Prof Dr. Muhibbin, MA, yang didampingi Wakil Rektor I, Dr. H. Musahadi, MA., serta Dekan Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam, Dr. Imam Yahya, MA dan Dr. Arif Junedy, salah seorang dosen FSEI, menyatakan bahwa IAIN Walisongo Semarang akan memulai penerimaan mahasiswa baru FEBI pada tahun akademik 2013/2014.
Menurutnya, FEBI lahir bukan karena tanpa alasan. FEBI diperlukan karena besarnya minat calon mahasiswa prodi ekonomi Islam dan prodi perbankan syariah yang semakin hari semakin meningkat dan karena perkembangan ekonomi Islam sudah menjadi sebuah keniscayaan. Berbagai lembaga keuangan Islam, baik berupa industry keuangan bank maupun industry keuangan non-bank harus diimbangi dengan pendidikan SDM yang handal dan mumpuni.
Sedangkan Dekan FSEI, Dr. Imam Yahya, M.Ag. menyatakan bahwa pemisahan  FSEI menjadi FS dan FEBI merupakan gayung bersambut dari dinamika masyarakat yang ingin menyekolahkan anaknya di lingkungan PTAIN. Di enam PTAIN (IAIN-UIN) peminat ekonomi Islam sangat banyak, bahkan dua tahun belakangan melebihi peminat calon mahasiswa ke Fakultas Syariah.  Tidak sedikit masyarakat kita yang belum familier dengan nama IAIN, sehingga banyak pertanyaan tentang IAIN.
Di IAIN Walisongo sendiri, FEBI terdiri dari dua prodi yakni prodi ekonomi Islam dan prodi perbankan syariah. Bahkan tahun depan FEBI menambah program studi baru yakni Akuntansi Syariah dan Manajemen Syariah, serta S.2 Ekonomi Islam. (IY)

Jumat, 11 Oktober 2013

pertemuan 1

coba
coba
coba
coba
coba
coba
coba
coba
coba
coba
coba
coba
coba
coba
kakkakakak